Simulasi dan Hiperrealitas dalam Sosial Media
Simulasi dan Hiperrealitas dalam Sosial Media
Jean Baudrillard adalah seorang sosiolog asal
Prancis. Dalam pemilikiran Baudrillard ia memilih kebudayaan sebagai medan
penelitian karna ia ingin mengungkapkan mengenai bagaimana pergeseran budaya
yang terjadi dalam struktur masyarakat yang disebutnya sebagai masyarakat
simulasi dan hiperrealitas. Sedikit saya akan membahas mengenai pandangan
Baudrillard seperti apa itu masyarakat simulasi dan hiperrealitas. Konsep
Baudrillard mengenai simulasi adalah tentang penciptaan kenyataan melalui model
konseptual atau sesuatu yang berhubungan dengan mitos yang tidak dapat dilihat
kebenarannya dalam kenyataan. Simulasi hadir bukan untuk melukiskan realitas
yang diwakilinya tetapi mereka hadir untuk mengacu pada dirinya sendiri dan
melampaui realitas aslinya. Media mempunyai suatu peranan penting dalam
penyebaran “realitas” dimana penyebaran itu nantinya serap oleh masyarakat
(konsumen media).
Wacana simulasi realitas yang sesungguhnya (fakta) tidak hanya bercampur dengan realitas semu (citra). Lebih jauh, citra lebih dipercaya dari pada fakta. Inilah era hipperealitas, dimana realtas asli dikalahkan dengan realitas buatan. (Saputro,2018:14)
Terlebih dengan kecanggihan teknologi dan aplikasi yang ada sekarang. Sedikit mengambil contoh dari keseharian kita dalam social media kita mengetahui anak muda dieramodern ini sangat aktif dalam bermain facebook,instagram dll tanpa sadar kita akan menemukan pengguna yang mengupload foto berada di tempat yang mewah,makanan yang mewah apapun serba mewah seolah berada dikelas social atas (kaya) tapi mereka tidak mempedulikan kondisi kenyataan yang ada pada diri mereka yang nyatanya posisinya berada dikelas social bawah . Dalam artian hal ini menayatakan bahwa apa yang ada di media belum tentu menjadi kebenaran yang ada pada kenyataan. Sama seperti berita bohong atau hoax yang tersebar di beberapa social media yang tujuannya hanya untuk membodohi penikmat media terlebih ketika pandemic covid 19 ini sangat banyak sekali hoax yang tersebar hanya untuk meningkatkan kecemasan rakyat dan ,pada kenyataannya yang ada dalam berita belum tentu benar adanya. Apa yang diserap oleh masyarakat tidak sesuai dengan keasliannya dikehidupan nyata.
Hyperreal adalah sebuah simulasi tahap lebh lanjut, yakni ketika citra menjadi realitas (Baudrillard,1988:172). Ia bukan tidak real melainkan lebih real dari yang real.(Budiman,2002:82)
Menurut Jean Baudrillard (2000), yang disebut
sebagai dunia hiper-realitas atau dunia yang melampaui realitas (hyper-reality)
pada dasarnya adalah sebuah realitas yang bersifat artificial atau superficial.
Yang tercipta lewat bantuan teknologi simulasi dan rekayasa pencitraan, yang
mengambil alih dunia realitas yang alamiah. Hiper-realitas merupakan benak
masyarakat dengan berbagai hal baru inilah yang kemudian justru menghancurkan
objektivitas dan tujuannya sendiri , yang ujung-ujungnya mnciptakan kondisi
tetang matinya realitas. (Suyanto,2014:198)
Menurut Baudrillard era ‘hiperrealitas’ ditandai
dengan lenyapnya petanda, dan metafisika representasi: runtuhnya ideology, dan
bangkrutnya realitas itu sendiri yang diambil alih oleh duplikasi dari dunia
nostalgia dan fantasia atau menjadi realitas, objek yang hilang bukan lagi
objek representasi tetap ekstasi penyagkalan dan pemusnahan ritualnya sendiri.
(Yanti,2015:20)
mengenai
hiperrealitas Baudrillard memperkenalkan kata “hyperreality” dalam bukunya yang
berjudul Simulacra and Simulation yang mengatakan bahwa hiperrealitas adalah
ketidakmampuan kesadaran manusia membedakan kenyataan dan fantasi khususnya
dalam kehidupan berteknologi tinggi. Nyata tanpa Kenyataan (Jean
Baudrrillard).hiperrealitas menciptakan suatu kondisi dimana kepalsuan bersatu
dengan keaslian, fakta bersimpang siur dengan kenyataan. Contoh mengenai
seperti apa hiperrealitas sadar atau tidak sadar ketika kita berada di suatu
tempat yang bahakan kita melihat orang-orangnya hanya sibuk dengan smartphone
yang ada genggamannya, mereka menganggap bahwa apa yang ditemukan di media
social itu lebih menarik ketimbang berbincang dengan orng lain ataupun hanya
melihat pemandangan sekitar dan tanpa mereka sadari mereka sudah terikat dengan
hiperrealitas termasuk saya sendri yang sampai sekarang masih sangat terikat
dengan social media. Media social memang membantu nereka untuk terhubung dengan
manusia lain yang bisa berjarak ribuan mil melalui layar dan jarigan tetap pada
saat itu juga membuat jarak dengan mereka yang dekat dan mengalienasi mereka
dengan lingkugan sosialnya. Hiperrealitas sangat menjauhkan kita dengan dunia nyata.
Begitupun dengan seseorang ketika ia sibuk memainkan,games, nonton film yang
dramatis dengan melibatkan perasaan serte emosialmya itu juga adalah salah satu
bentuk hiperrealitas.
Dalam keadaan ini pndemi masih berlangsung hperrealitas
juga terjadi sekarang seperti bnyaknya trsebar berita yentang pandemic corona
ini yang bahkan tak diketahui dari mana sumber informsi ini. Publik dijejali
oleh ribuan informasi seputar Corona melalui kanal-kanal media sosial. Situasi
ini bisa dimaknai sebagai anugerah sekaligus musibah sekaligus. Anugerah
lantaran publik dimungkinkan untuk mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya
ihwal Corona. Namun, bisa jadi musibah jika publik tidak memiliki mekanisme
individual untuk menyeleksi informasi yang masuk ke layar gawainya.
Media berhenti menjadi cerminan realitas tetapi
justru menjadi reaitas itu sendiri atau bahkan lebih nyata dari realitas itu. Televise,
surat kabar, tabloid yang semakin popular sebagai contoh yang baik karena
kebohogan dan distorsi yang disajikan keada pemirsa melebihi realitas .
kebohongan dan distors itu yaitu hipperrealitas. Akibatnya, apa yang nyata
(real) disubordinasikan dan akhirnya dilarutkan sama sekali, sehingga mustahil
membedakan yang nyata dan yag menjadi tontonan. Dalam kehidupan nyata
kejadian-kejadian “nyata” semakin mengambil ciri hyperal. Dan tidak ada lagi
realitas, karena dalam benak masyarakat hanyalah
hiperrealitas.(Sugihartati,200:42)
Dalam hal ini
saya memahami bahwa masyarakat di sekitar kita secara otomais sudah dapat
dikatakan masyarakat simulasi dan hiperrealitas. Oleh karena itu perlu
bagi kita untuk pandai dalam mengamati sesuatu dalam bersosial media. Jangan
mudah percaya terhadap segala bentuk unggahan atau potingan yang ada terlebih
terhadap berita yang tidak tau sumbernya dari mana. Terebih sekrang kita sedang
dilanda pandemic covid-19 ini, agar lebi sangat berhati-hat menerima informasi
jangan sampai terprovokatori oleh segala bentuk informasi yang tidak real. jangan mudah menjudge orang lain dalam
bersosial media. Kita juga harus bersikap kritis trhadap apa yang kita lihat
dan kita terima. Jangan terlalu larut akan kenyamanan fantasi yang semu. Hingga
lupa akan kehidpan kita yang nyata. Mingkin ini sedikit ringkasan dari beberapa
buku diinternet yang saya baca dan saya pahami. Sebenarnya masih banyak
pembahasan mengenaik pemikiran Jean Baudrillard tapi hanya ini yang dapat saya
pahami dari banyaknya pemikiran Jean Baudrillard.
Daftar Pustaka:
Budiman hikmat. 2020, Lubang hitam kebudayaan,
Yogyakarta ; Kanisius
Suputro hendri. 2018, The counselinh way catatan
tentang konsepsi dan keterampilan, Yogyakarta ; Deepublish
Suyanto bagong. 2014, Sosiologi ekonomi: Kapitalisme
dan konsumsi di era masyarakat post-modernisme, Jakarta ; Prenada media
Sugihartati rahma. 2014, Perkembangan Masyarakat
Informasi & Teori sosial konteporer, Jakarta ; Kencana
Astuti dwi yanti, "Dari Simulasi Realitas
Sosial hingga hiper-realitas visual: Tinjauan Komunikasi Virtual melalui sosial
media di Cyberspace, Jurnal komunikasi Vol. 8/No. 2/ Oktober 2015
Komentar
Posting Komentar